Rabu, 15 Januari 2014

#1Hari1Ayat SPECIAL CHALLENGE : #RasulullahMyIdol

  A'uuszubillaahiminasysyaithoonirrojiim

 7:199
“ Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”.(al a’raaf : 199)

Berselisih paham, mungkin pernah kita alami.  Berbeda pendapat, mungkin juga sudah biasa.  Itu manusiawi, karena tabiat makhluk bermasyarakat memang demikian. Bagaimana reaksi kita? Bagaimana perlakuan kita sesudahnya.  Mungkin ini yang perlu perhatian. Karena umumnya reaksi muncul manakala kita merasa benar, orang lain salah.

Berselisih, biasanya akan memantik bara. Sungguh tak mudah jika bara kemarahan di dalam dada telah menyala. Begitu panas menggelegak.  Membakar ukhuwwah, merenggangkan jamaah.

Padahal seringkali, selisih paham itu bukanlah dalam urusan agama.  Kita berselisih dengan tetangga gegara anak balitanya memetik bunga mahal kesayangan kita. Kita berselisih dengan teman karena tidak suka dengan sikapnya.  Kita selisih paham dalam organisasi karena berbeda pandangan dengan yang lainnya.

Jika untuk urusan agama, justru kita harus memiliki ghiroh (kecemburuan).  Ingatlah nasehat agung teladan kita:
            “Jika engkau melihat kemunkaran, ubahlah dengan tanganmu.  Jika tak bisa, ubahlah dengan lisanmu. Jika tak mampu jua, ubahlah dengan hatimu. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman”.(HR Bukhari - Muslim)

Tetapi itu tidaklah berarti kita boleh menghalalkan segala cara.  Karena menyampaikan kebenaran dari Allah, adalah untuk meninggikan kalimat Allah, bukan untuk meninggikan kebenaran ilmu diri kita yang masih sedikit.   Maka Dia berfirman:

            “Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”.(al a’raaf : 199)

Memafkan tidak semudah menyebutkannya.  Tidak sesederhana diksinya. Butuh penyertaan emosi untuk memaafkan, agar api kemarahan di dalam dada dapat padam sepadam-padamnya. Lihatlah contoh agung berikut ini.

Kasih cinta sang utusan begitu kuat menyala dalam dada, menginginkan keselamatan akhirat bagi umatnya.  Maka ia datangi perkampungan mereka.  Ia sampaikan kebenaran firmanNya.  Namun kenyataan tak sesuai harapan.  Bani Tsaqif di Thaif justru melempari dengan kotoran dan batu. Bagaimana beliau merasakannya? Sedih sudah tentu. Hingga beliau berkata :

“Ya allah, kepadaMu aku mengadukan kelemahan dari kekuatanku, kekurangan kemampuanku, kelemahan dalam menghadapi orang-orang yang lemah. Engkau Rabbku.  Kepada siapakah Engkau serahkan aku? Apakah kepada orang jauh yang bermasam muka kepadaku?  Ataukah kepada musuh yang engkau kuasakan untuk menguasai diriku? Jika bukan karena murkamu kepada diriku maka tak aku pedulikan mereka semua.  Tapi perlindungan dengan sinar wajahMu yang menyinari kegelapan, maka menjadi baiklah urusan dunia akhirat.  DariMulah segala petunjuk dan keridhoan. Tidak ada tipu daya dan kekuatan selain dari Engkau.

Lihatlah samudra yang tenang itu.  Tak ada emosi terpantik api disana. Tak ada bara kemarahan menyala.  Yang ada adalah ungkapan kasih yang tulus, tersebab cinta pada umatnya. Hingga saat malaikat penjaga gunung manawarkan pembalasan, Ia berkata:

 “Tidak ! Bahkan aku berharap mudah-mudahan Allah mengeluarkan dari keturunan mereka, orang-orang yang menyembah Allah, dan tidak menyekutukannya dengan apapun”

Maka jika hari ini kita berselisih paham, maafkanlah mereka.  Ajak mereka mengerjakan yang ma’ruf.  Jika tidak, maka berpalinglah dari mereka. Do’akan mereka dengan setulus cinta.

Allahumma Sholli Wasallim 'Ala Muhammad. Yaa Robbana, berikan kami ketulusan cinta. Sebagaimana Muhammad saw, sang utusan telah mencontohkan.  Masukkan kami dalam kafilahnya, bersama para pengikutnya, hingga akhir zaman...aamiin

sumber qur'an disini 

4 komentar:

  1. Wahhh ini rupanya tulusan pemenang special challenge. Bagus loh! Pantes bgt jadi pemenang.

    Mengaku sebagai kaumnya Rasulullah tentu harus mau meneladani sifat-sifat Rasulullah ya. Termasuk menjadi pemaaf :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Segala Puji hanya untukNya mbak, saya juga masih belajar...semoga menginspirasi ya...n..trimakasih sudah berkunjung :)

      Hapus
  2. Subhanalloh mb....buagus buanget...surprise nih..lanjutkan mb jadikan sebuah buku.. ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha..makasih supportnya net..ini masih amatiran..he..

      Hapus